Mengenang Almarhum Dosen
Sepuluh tahun yang lalu, salah seorang dosen saya meninggal dunia. Bukan salah satu dosen favorit, walau juga bukan tipe dosen yang menyebalkan. Tapi ada hal lain yang ingin saya ceritakan di sini.
Drs. I Wayan Sedeng namanya. Dosen seni rupa. Beliau menghilang dari kampus selama kira-kira seminggu. Tidak ada yang mengangkat telpon waktu dicoba dihubungi ke rumahnya. Beliau belum menikah dan tinggal sendiri di Denpasar. Sementara keluarga terdekatnya ada di kabupaten lain. Mereka juga tidak tahu.
Lalu beberapa staf kampus mencoba menghubungi Rumah Sakit Umum Pusat di Sanglah, Denpasar. Ternyata beliau sudah terbujur kaku di kamar mayat. Dengan label John Doe.
Pihak rumah sakit menjelaskan, tidak ada yang tahu persis kejadiannya seperti apa. Diduga kecelakaan lalu lintas, beliau jatuh dari motor Vespa. Beberapa orang yang lewat dan warga setempat menemukannya dalam keadaan tidak sadar, teronggok di selokan. Tidak ada identitas apa-apa di sakunya. Mungkin dompetnya jatuh. Lalu dilaporkan ke polisi dan dibawa ke rumah sakit.
Tidak ada yang tahu pasti juga apakah saat itu beliau hanya pingsan atau sudah meninggal. Karena tidak ada identitas tersebut, pihak rumah sakit meletakkan beliau dalam status idle, menunggu ada laporan kehilangan, klaim dari keluarga atau sejenisnya. Dan sampai seminggu kemudian, seperti cerita di atas.
Ah, andai saja tidak perlu ada birokrasi seperti itu, mungkin beliau masih sempat diselamatkan. Dan John Doe-John Doe lainnya di Indonesia yang meninggal di rumah sakit karena tidak segera dirawat, hanya karena kehilangan surat identitasnya.