Mengapa Saya Lakukan Itu?

Membaca tulisan Isman tentang Pilih Sendiri Petuahmu, saya jadi teringat sesuatu.

Beberapa waktu yang lalu, di bulan puasa, saya dan Vanya memutuskan untuk makan malam di Hanamasa. Sebuah rumah makan yang dibuat khusus untuk orang-orang rakus (seperti saya) yang suka mengkomplain masakan orang. Di situ komplain bisa ditujukan pada pengunjung lainnya yang berisik atau perebutan stok daging mentah.

Berhubung banyak yang berbuka, restorannya penuh dan harus menunggu. Masuk waiting list. Selagi menunggu, ada seorang bapak yang juga sedang menunggu, mengisi waktunya dengan merokok.

Yang mengejutkan – menurut saya mengejutkan – bungkus plastik dan aluminium foil rokok yang baru dia beli, dibuang begitu saja dekat kakinya di teras depan restoran. Disaksikan anak laki-lakinya sendiri yang baru berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Disaksikan pula oleh orang-orang lain yang sedang menunggu juga. Padahal ada dua tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Saya menunggu sekitar 5 menit untuk melihat respon si bapak. Juga respon anaknya. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun. Dan tetap menghisap rokok dengan nikmatnya.

Baiklah™. Saya beranjak dari tempat duduk saya. Memunguti sampah-sampah tersebut tanpa berkata apa pun. Lalu membuangnya di tempat sampah. Disaksikan the bapak and the anak and the other pengunjungs. Lalu saya kembali duduk sambil tetap mengarahkan pandangan pada the bapak tanpa ekspresi apa pun.

Nah, pertanyaannya adalah, mengapa saya lakukan itu?

richoz

richoz

Experimentalist.

Archive

2012 (127)
2011 (370)
2010 (89)
2009 (53)
2008 (66)
2007 (76)
2006 (140)
2005 (93)
2004 (118)
2003 (51)
Posterous theme by Cory Watilo