Angan Menjadi Kenyataan

Rasanya belum lama menulis tentang kerinduan masa-masa menjadi pengamen profesional. Masih di bulan yang sama. Semalam tiba-tiba ada telpon dari nomor yang tidak terdaftar di buku telepon genggam saya. Choky, vokalis dan gitaris band kami di masa itu, sedang cuti panjang dari pekerjaannya dan sedang berada di Jakarta.

Whoa! Langsung saya susul ke BBs, kafe di bilangan Menteng tempat kami saat itu menjadi pengamen. Ini sekaligus memberi sanggahan tentang desas-desus yang sempat beredar — BBs masih buka dan masih beroperasi. Just like the ol’ days.

Home band di lantai dasar masih diisi oleh Boy dan kawan-kawan, pengganti band kami. Menariknya, Boy ini dulu lebih suka menyanyikan lagu-lagu oldies dan country. Semalam kami perhatikan, rupanya ia telah mengganti playlist-nya menjadi mirip seperti lagu-lagu yang dulu sering kami mainkan :D Mungkin karena banyaknya permintaan dari pengunjung, atau sudah jenuh dengan playlist lamanya.

Sayang kurang kehadiran Tutu. Kabar terakhir dia malah ada di Bali. Nomor telepon genggamnya sudah berganti dan tidak tahu harus menghubungi ke mana.

Diberi kesempatan untuk mengisi panggung saat the home band istirahat, saya dan Choky dibantu oleh salah seorang gitaris lain mengulang beberapa répertoire. Wild Horses, Daughter, Lightning Crashes dan Don’t Look Back in Anger — silakan tebak nama-nama band yang menciptakan dan mempopulerkan lagu-lagu tersebut.

4 lagu tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat malam itu menjadi sangat menyenangkan. Sekaligus melupakan tekanan dari pekerjaan sehari-hari.